Selasa, 29 Januari 2013

Maple

Angin-angin kecil begitu terasa meniup-niup telingaku, Seolah ingin membisikan sesuatu kedalam telingaku, membran tefani bekerja begitu keras untuk menerima getaran yang dihembuskan oleh angin-angin pembawa pesan.

Termenung melihat sekitarku, yang ada hanya rerumputan hijau dan daun-daun merah merekah yang berguguran, berterbangan tertiup oleh angin-angin kecil membuat indah suasana hati saat ini, getaran-getaran suara angin-angin itu kembali berbisik di membran tefani, memaksa gendang telinga untuk mengantarkan pesan dari angin-angin ke tulang telinga, yang di teruskan oleh berbagai macam tulang untuk bisa menyampaikan pesannya kedalam otak.

Setelah begitu banyak pos-pos di dalam telinga terlewati, sampailah pesan itu kepada sanggurdi, yang masih ia teruskan untuk memasuki rumah siput atau koklea, di dalam rumah siput pesan ini diterjemahkan kedalam bahasa otak yang kemudian sampailah pesan itu kepadaku.

Sambil tersenyum, aku kembali memandang sekitar tempat dudukku, terucaplah pesan yang disampaikan oleh angin-angin kecil itu melalui hembusan dan suara-suara daun maple yang berguguran.

"Hidup itu indah :) "

Color full because life is not only black an white ;)

Rabu, 16 Januari 2013

This is life

"Emaakk,,,!! golek duet koq jebule rekoso tenan" begitulah kira-kira kata-kata yang berada didalam foto dinding facebook, dengan gambar seorang anak kecil yang memikul beban rumput yang banyak, tidak bisa di pungkiri lagi bahwa kehidupan pada saat sekarang ini memang sangatlah sulit,  begitu banyak rakyat miskin di dunia ini yang merasakan kesulitan dalam menjalani kehidupan ini, tidak perlu rasanya jauh-jauh melihat dunia, di negeri kita sendiri saja, indonesia misalnya merupakan negara dengan jumlah penduduk miskin sekitar (11,96 persen) atau mencapai 29,13 juta jiwa menurut data sensus penduduk miskin di indonesia pada bulan maret 2012, angka ini masih sangat banyak dan sangat sulit untuk di tanggulangi, meskipun sudah ada sedikit penurunan sebesar 0,89 juta jiwa atau sekitar (0,53 persen), dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 30,02 juta jiwa atau sekitar (12,49 persen) pada bulan maret 2011, hal ini merupakan salah satu dari imbas sedikitnya lapangan pekerjaan di indonesia, yang juga berdampak pada banyaknya sarjana pengangguran yang kesuliatan dalam mendapatkan pekerjaan.


Mungkin jika ada seorang anak adam yang akan lahir ke dunia diberikan pilihan, untuk memilih misalnya hidup miskin atau kaya maka semuanya akan memilih kaya, tidak akan ada yang ingin terlahir dalam keadaan miskin, bahkan mungkin bayi yang tahu akan terlahir dalam keadaan miskinpun, ingin rasanya tetap berada di dalam rahim ibunya dan tidak ingin dilahirkan kedunia, karena mereka tahu bahwa mereka akan merasakan kemiskinan yang sama dengan orang tua mereka, tetapi tidak selamanya orang miskin selalu dibawah, banyak orang miskin yang karena ketekunannya dalam bekerja, mereka bisa menjadi orang yang mampu dan bahkan sukses, meskipun sangatlah sulit untuk menggapainya, dan bahkan tidak sedikit juga orang yang dulunya sukses atau kaya tiba-tiba jatuh miskin atau bangkrut, ini lah yang disebut sebagai roda kehidupan, kadang kita berada dibawah kadang-kadang kita juga berada di atas, kita juga tidak tahu kapan kita akan berada diatas dan berada dibawah.


Sedikit teringat kata-kata orang-orang tua jawa pada zaman dahulu, yang menyuruh anak-anaknya untuk bangun pagi dan melarangnya untuk tidur kembali kira-kira seperti ini " ojo turu isuk-isuk le,,,!! engko rejekine dipatok ayam" kata-kata ini menunjukan bahwa orang-orang pada zaman dahulu tahu bahwa kehidupan di dunia ini, akan terasa sangat sulit apabila kita tidak menjalaninya dengan serius, tetapi banyak anak-anak pada saat sekarang ini yang menganggap remeh kata-kata tersebut, sehingga menjadikan diri mereka bermalas-malasan dalam melakukan aktifitas di pagi hari, yang mengakibatkan terlambat mandi, sarapan, kuliah dan bahkan menjadi sarjana yang tertunda, cukuplah 29,13 juta jiwa tadi saja yang merasakan kemiskinan di negeri kita dan janganlah menambah kuota menjadi 29,14 juta jiwa, seyogyanya kita sebagai warga negara yang memiliki budi pekerti yang baik saling mengingatkan dalam hal tersebut, supaya angka kemiskinan di negara kita tidak semakin bertambah.


Marilah bersama-sama kita bangkit dan majukan negara kita, di mulai dari diri sendiri dan yang kemudian diaplikasikan di lingkungan keluarga kita lalu masyarakat kita, seperti bunyi pepatah "jika kamu ingin mengubah dunia maka kamu harus merubahnya dari diri kamu terlebih dahulu, kemudian keluarga, masyarakat sekitar, dan negara".

Imtihan Qobul

Suasana pagi hari yang begitu mendung di bumi para nabi, mesir sedang mengalami pergantian musim, yaitu dari musim panas ke musim dingin, pukul 09.35 WK aku baru saja selesai mandi dan bersiap-siap untuk pergi kekampus al-azhar yang terletak di H-6, ini merupan kali keduanya aku dan temanku yang tidak di sebutkan namanya pergi kekampus al-azhar H-6 atau lebih sering di sebut gama'ah oleh orang mesir, Hari ini kami pergi kekampus untuk mengikuti ujian masuk kuliah di universitas al-azhar (imtihan qobul), ujian ini hanya diberlakukan untuk para mahasiswa asing yang ingin belajar di universitas al-azhar, ujian ini di berlakukan guna mengetahui kemampuan camba(calon mahasiswa baru) dalam memahami bahasa arab secara kitabah(penulisan), istima'i(listenig), dan takalum(pengucapan).

Ujian ini banyak di ikuti oleh mahasiswa asing yang didominasi dari malaysia, kurang lebih sekitar 400 camba dari negara malaysia mengikuti ujian ini, dan masih banyak lagi dari negara lain, sedangkan untuk camba dari indonesia hanya sekitar 30 orang, ini terlihat sedikit dikarenakan mahasiswa yang mengikuti imtihan qobul hanya orang-orang sepecial seperti aku dan teman-teman, sedangkan untuk sebagian mahasiswa indonesia yang lainnya mengikuti ujian masuk kuliah di indonesia, aku memilih ujian disini karena sebelumnya tidak ada kejelasan tentang di adakannya ujian di indonesia, yang kemudian memaksaku untuk pergi ke mesir lebih dulu, setidaknya ini merupakan pengalaman yang sangat berbeda di bandingkan teman-temanku yang mengikuti ujian di indonesia, ujian di sini rasanya lebih besar peluang untuk lulus, sedangkan di indonesia lebih besar peluang untuk tidak lulus.

Ujian yang sangat berbeda, dan ini merupakan yang pertama dalam hidupku mengikuti ujian di dalam ruangan yang sangat besar seperti bioskop 21 yang ada di kota tempat tinggalku, ujian ini di ikuti oleh banyak mahasiswa asing, tidak ada rasa kekhawatiran yang besar dalam mengikuti ujian ini, aku selalu tersenyum melihat banyaknya camba-camba asing dan mendengar bahasa-bahasa yang asing di telingaku, terutama bahasa thailand, dan bahasa kamboja, terdengar asing dan lucu, hal ini membuatku selalau tersenyum menahan tawa di dalam hati, tetapi dengan adanya itu semua menjadikanku bersemangat dalam menjawab soal-soal ujian karena adanya persaingan, aku tidak ingin kalah dengan camba asing dalam mengikuti ujian ini.

pukul 11.00 WK ujian di mulai, para dosen membagikan lembar soal ujian dan jawaban, mereka juga memeriksa pasport yang semuanya di letakkan di atas meja ujian, guna mengantisipasi kecurangan dalam ujian, aku memulai membuka soal ujian dengan membaca bismillah mudah-mudahan tidak sesulit yang dibayangkan, tetapi wal hasil benar-benar sulit, ini karena yang membuat soal ujiannya langsung dosen/duktur al-azhar, tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam menjawab soal ujian tersebut, banyak dari mereka yang kurang faham dengan bahasa arab yang begitu tinggi maknanya, sedangkan aku sediri saja sampai terkantuk-kantuk melihat soal yang sangat sulit difahami.

Sekilas terlihat begitu mudah namun sulit untuk mengungkapkannya, begitulah al-azhar mendidik mahasiswanya untuk menjadi seorang mufaqir yang keritis dalam segala hal, terkhususnya dalam hal agama, tidak terasa waktu ujian sesi pertama telah selesai, jam tanganku menunjukan pukul 13.00 WK kami semua melanjutkan ujian sesi kedua yang banyak membahas tentang ilmu nahwu dan sorof, sedangkan sesi pertama banyak membahas tentang fahmu qiroah(pemahaman dalam membaca sebuah artikel) yang setelah itu dilanjutkan dengan ujian istima'i(listening) dan insya(mengarang), alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar meskipun sedikit mendapat kendala dalam memahami bahasa arab yang tinggi maknanya, dan imtihan qobul selesai pukul 14.30 WK.

Hasil ujian akan di umumkan seminggu setelah dilaksanakan ujian, Saatnya memperbanyak do'a dan sedekah, al-azhar perkuliahan yang tidak bisa di tebak seperti perkuliahan-perkuliahan lainya, banyak berusaha tanpa do'a itu namanya sombong, banyak do'a tanpa usaha namanya bohong, jadi harus di samakan antara do'a dan usaha, karena tidak sedikit mahasiswa yang pintar di indonesia atau pintar di sekolahnya bisa mengalami kegagalan dalam ujian di al-azhar, tetap semangat dan istiqomah.


salam hangat dari keluarga vila SQ ^_^

Kesuksesan yang Tertunda

Rosib/gagal itulah nilai yang saat ini aku dapatkan setelah menempuh ujian dua bulan, satu bulan ujian termin satu dan satu bulan lagi ujian termin dua yang keduanya di pisah oleh masuk kuliah beberapa bualan saja, kali ini sudah masuk tahun kedua aku kuliah di universitas al-azhar cairo egypt, waktu bergulir begitu cepat, rasanya baru kemarin aku sampai di bumi para ambiya ini, dan sekarang sudah hampir dua tahun.

     Tidak begitu sedih rasanya apa bila kita melihat teman yang lain juga ikut merasakan kegagalan yang sama dalam ujian, tapi akan terasa sedih apa bila teman dekat kita berhasil dalam ujian, bahkan mendapatkan nilai terbaik, segala penyesalan itu akan datang diakhir, jika datangnya di awal itu namanya pendaftaran, sekarang hanya akan ada satu kesempatan lagi buatku untuk memperbaiki kegagalan tersebut, dan itu hanya bisa dicapai dengan belajar yang sungguh-sungguh, dan jangan lupa do'a dan ibadah-ibadah sunnah lainnya.

     Satu pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan setelah mendapatkan kegagalan, yaitu selalu bersyukur kepada allah subhanahu wata'ala, dimanapun itu dan kapan pun itu, karena dengan begitu kita masih bisa merasa bahwa apapun hasil yang kita dapatkan itu insya allah yang terbaik buat kita, allah selalu memiliki rencana yang indah dan kita sebagai hamba tidak tahu itu, kita hanya meminta tanpa kita sadari bahwa yang kita minta selama ini belum tentu yang terbaik buat diri kita sendiri, kadang kita sebagai hamba malah ber su'uzhon kepada allah, karena allah tidak memberikan apa yang kita mau, padahal semua itu sudah di atur oleh allah subhanahu wata'ala, kita hanya menunggu saja kapan itu akan di berikan oleh allah kepada kita.

    Tetap semangat dan istiqomah adalah kunci untuk bisa meraih sebuah keberhasilan, tanpa semangat serta kesungguhan dalam belajar, kita tidak akan mampu mencapai tingkat keberhasilan tersebut, dan tanpa istiqomah dalam beribadah dan belajar kita juga tidak akan mampu menggapainya, kadang bisa kita menggapainya tanpa itu semua, namun tidak akan ada rasa puas dan rasa syukur yang kita akan dapatkan dari hasil yang telah kita capai.

     kembalilah teriakan kata-kata " man jadda wa jada " di dalam diri kita semua agar semangat yang kemarin sempat luntur karena telah mendapatkan kegagalan, kembali bangkit dengan kekuatan yang sangat luar biasa, di samping itu semua juga ada faktor-faktor yang bisa membuat kita gagal dalam menuntut ilmu, yaitu maksiat kepada allah, sedikit mengingat sebuah sya'ir imam syafi'i rahimahullah yang berbunyi

شكوت إلى وكيع سوء حفظى فأرشدنى إلى ترك المعاصى وأخبرنى بأن العلم نورونرالله لايهدى لعاصى

Aku mengadu kepada guru (waki'i) tentang buruknya hafalanku maka aku diarahkan
untuk meninggalkan dosa (maksiat) dan ia mengatakan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan menunjuki orang yang berdosa (maksiat).

    Dengan begitu mudah-mudahan allah selalu mempermudah urusan kita dalam menuntut ilmu agama, dan juga selalu menumpahkan rahmatnya bagi kita semua yang sedang berjihad fi sabilillah dalam menuntut ilmu, amiin.


Tetap semangat dan istiqomah   ^_^
salam hangat ikhwati fillah, dua bulan menjelang ujian termin satu universitas al-azhar cairo

Mimpi Indah yang Menjadi Nyata

Pukul 23.45 WIB saat aku melihat jam tanganku, terdengar suara panggilan dari petugas bandara internasional Soekarno Hatta, bahwa pesawat dengan jurusan penerbangan Jakarta - Kuala Lumpur - Kuwait - Kairo akan segera lepas landas, tidak terasa hanya tinggal beberapa menit lagi aku akan meninggalkan negeri tercinta indonesia untuk beberapa tahun yang tidak tentu berapa lamanya, sedih bercampur bahagia, sedih karena harus menginggalkan keluarga tercinta, dan bahagia karena cita-citaku sebentar lagi akan terwujud, yaitu kuliah di universitas al-Azhar Kairo, Mesir.

  Aku langsung bergegas mengambil tas leptop dan ransel di sampingku yang berisi makanan dan obat-obatan, kemudian aku  berjalan menuju boarding pass yang berada di lorong menuju kabin pesawat, aku berikan tiket pesawatku kepada pramugari,  yang kemudian ia robek, dan mempersilahkanku untuk mencari seat yang sesuai dengan boarding pass, setelah mencari-cari sebentar, akhirnya aku menemukan juga tempat dudukku (seat), dan aku mulai memasukan barang-barang kedalam kabin pesawat yang berada di atas tempat duduk, aku mendapatkan tempat duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki yang berwajah asia, tapi kurang akrab dan bisa berkomunikasi dengan orang yang tidak ku kenal, sambil memasang sabuk pengaman, mulai membaca do'a safar yang telah di sediakan oleh maskapai pesawat.

  Sambil membaca do'a, pramugari mulai memberikan instruksi untuk menggunakan sabuk pengaman dan memberikan arahan-arahan lain apa bila terjadi emergency, setelah selesai, pesawat mulai take off dari bandara internasional Soekarno Hatta pukul 00.35 WIB, sesaat kemudian aku terbayang ketika masa-masa aku masih duduk di bangku Kelas Satu Madrasah Tsanawiyah, aku yang selalu bermimpi bisa kuliah di luar negeri tepatnya Mesir, aku mendapatkan mimpi ini dari seorang teman sekolahku yang biasa di panggil Ilham, dulu ketika kami masih bersama menuntut ilmu di sebuah Pondok Pesantren yang tidak terlalu di kenal di desa, dia sering bercerita tentang kakaknya yang kuliah di sebuah universitas tertua didunia, yaitu universitas al-Azhar Kairo Mesir.

  Berawal dari sebuah cerita yang kemudian menjadi semangat hidup yang begitu sangat menginspirasikan untuk bisa menjadi seperti kakaknya ilham, sejak saat itu aku mulai bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, karena aku juga ingin bisa merasakan kuliah di universitas al-Azhar salah satu universitas tertua di dunia yang mana terkenal dengan para ulamanya dan serta keilmuanya tentang dunia islam, tidak hanya itu Mesir juga di sebut negeri para nabi, karena dahulu para nabi banyak yang berasal dari Mesir.

   Semenjak saat itu aku mulai menceritakan keinginanku kepada kedua orang tua, kalau nantinya jika lulus Madrasah Aliyah aku ingin melanjutkan studi ke bumi para nabi, bumi terjadinya peradaban islam, buminya para ulama-ulama besar, sekilas jadi teringat dengan kata-kata mutiara arab yang dulu diajarkan oleh ustadzah Llilis, "Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina" tapi ini melebihi cina jauhnya, tidak seberapa lama kemudian keinginanku itu hilang dan luntur, karena pikiranku saat itu hanya ingin pindah sekolah, dari pondok pesantren yang dulunya sederhana, dan sekarang aku sudah berada di pondok pesantren modern, tepatnya di kota.

    Setelah tinggal dan hidup di lingkungan pondok modern selama satu tahun, mulailah keinginanku yang dulu terpendam, sedikit demi sedikit mulai bermunculan keluar, yaitu ingin melanjutkan kuliah di universitas al-Azhar, aku kembali terinspirasi dari kakak kelasku yang sama satu pesantren, dia telah lulus tes ujian masuk universitas al-Azhar, dan sebentar lagi berangkat, saat itu dia memberikan sebuah nasehat, supaya kami tetap semangat dalam belajar, dan jangan lupa untuk selalu berdo'a supaya dipermudah oleh Allah SWT dalam hal menuntut ilmu agama.

      Seiring berjalanya waktu, aku telah duduk di kelas tiga Aliyah, tidak terasa sudah hampir diakhir perjalanan di bangku persekolahan, kini sebentar lagi aku akan menempuh ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu bangku perkuliahan, di akhir aku dan teman mulai disibukkan dengan kegiatan bimbel karena sebentar lagi kami akan menghadapi ujian nasional yang akan diadakan secara serentak di setiap daerah, sambil bimbel, aku mulai kembali mengulangi hafalan al-Qur'an yang dulu pernah hafal waktu Tsanawiyah dan waktu saat aku duduk di kelas dua Aliyah, sedikit-sedikit sudah mulai lancar dan kuat.

     Beberapa minggu sebelum ujian nasional dilaksakan, ada salah seorang guru yang menawarkan kuliah ke mesir, yang katanya akan di laksakan di UIN medan, mulailah aku dan temanku yang biasa disapa Yudi, dengan sedikit keraguan kami mencoba untuk mendaftar diri mengikuti ujian tes masuk kuliah di universitas al-Azhar, setelah selesai ujian nasional dan telah melihat hasil yang lumayan memuaskan kami berdua diminta untuk mengisi lembar formulir pendaftaran yang dulu telah di sediakan oleh guru kami, namun setelah dicek ternyata untuk pendaftaran tahun ini masih belum di buka, karena pada waktu itu mesir masih mengalami masa revolusi, dan sebagian mahasiswa Indonesia juga ada yang telah dievakuasi, namun itu semua tidak melunturkan niatku untuk menuntut ilmu di negri para nabi tersebut.

     Sebelumnya orang tuaku juga sempat ragu karena mendengar kabar bahwa Mesir sekarang sedang tidak aman, tapi aku berusaha meyakinkan mereka, bahwa aku akan tetap pada keinginanku untuk melanjutkan studi di al-Azhar Mesir, selang beberapa bulan karena tidak ada informasi yang jelas, dan aku sempat menganggur beberapa bulan menunggu panggilan untuk melakukan ujian atau tes, namun tidak ada juga info dari guruku dan juga dari situs atau web yang biasanya mengumumkan masalah ujian tes masuk al-Azhar, akhirnya guruku mengabil jalan pintas untuk memasukan aku ke ma'had di Mesir, supaya bisa masuk kuliah.

     Hanya menghitung beberapa hari aku dan temanku diberi tahu untuk membuat pasport, dan akhirnya aku pergi ke kota ditemani oleh orang tuaku untuk membuat pasport, selalu pulang dan pergi selama beberapa hari untuk menyelesaikan urusan tersebut, dan wal hasil alhamdulillah pasport pelajar sudah ada di tangan dan siap untuk dikirim ke jakarta, setelah menunggu kembali beberapa bulan sampai akhirnya pada hari jum'at tanggal 19 agustus aku dan ayahku pergi ke pekanbaru, ibuku tidak ikut mengantarkan ke bandara, karena masih ada adikku yang harus diurus oleh ibuku, ibu hanya mengatarkan aku sampai di depan pintu rumah.

      Rasa sedih yang dalam aku rasakan, ketika aku mencium kedua tangan ibuku, melepas kepergian anaknya untuk menuntut ilmu yang suci di negri yang jauh disana, setelah berpamitan dengan ibu, aku juga berpamitan dengan nenekku dan saudara-saudaraku, kemudian pergilah aku dengan ayahku mengendarai mobil kami yang sudah disediakan, dalam perjalanan aku hanya bisa bersyukur dan selalu berdo'a supaya nantinya bisa dipermudah segala urusan oleh Allah SWT, setelah sampai di kota, aku dan ayahku pergi ke rumah Yudi temanku yang juga akan pergi menuntut ilmu bersama di universitas al-Azhar.

     Pukul 06.30 WIB tanggal 20 agustus 2011, 21 ramadhan 1432 H, aku beserta keluarga temanku pergi kebandara riau SSQII (Sultan Syarif Qosim II), sesampainya di bandara kami langsung bergegas untuk cek in bandara, karena tidak lama lagi pesawat akan segera melakukan take off, setelah melakukan cek in dan boarding pass, akhirnya pesawat mulai take off dan terbang menuju bandara internasional soekarno hatta, hanya beberapa jam saja, sampailah kami semua di jakarta dengan keadaan selamat Alhamdulillah, setelah sesampainya di sana, aku, ayahku, Yudi dan ayahnya, mencari sebuah hotel untuk beristirahat sejenak karena waktu itu hari Jum'at dan sebentar lagi adzan jum'at, setelah mendapatkan hotel dan bersiap-siap untuk melaksakan sholat Jum'at, kami semua bergegas pergi ke masjid yang tidak begitu jauh dari bandara, sesampainya disana kami melaksanakan sholat, dan setelah itu kembali lagi ke hotel tempat kami beristirahat, sambil beristirahat aku mencoba melihat sekitar hotel yang menyatu dengan bandara tersebut, aku pandangi pesawat Arab Saudi yang datang dan pergi mengantarkan para penumpang yang akan melakasanakan ibadah umrah.

   Tidak terasa jam dinding sudah menunjukan pukul 15.00 WIB waktu kami berada di hotel sudah habis, maka kami pun berkemas-kemas meninggalkan hotel menuju tempat cek in, karena orang yang akan ikut mengantarkan kami sudah datang sambil membawa berkas-berkas yang dulu telah kami kirim bersama dengan pasport, setelah berbincang-bincang sebentar, maka saatnya aku berpisah dengan ayahku, aku merasakan begitu hangatnya pelukan seorang imam yang telah mengajarkanku arti kehidupan, se-akan tangannya yang memeluk erat tubuhku tidak ingin lepas begitu saja, dan perlahan ia melepaskanku sambil berpesan  dengan suara yang begitu halus ditelingaku, "Belajar seng pinter yo le, biar bermanfaat bagi agama dan bangsa" singkat tapi makna yang begitu dalam ku rasakan, sedikit tampak sedih dari paras ayahku, tapi ia tegar, saat itu aku berfikir tidak salah jika aku dititip oleh Sang Pencipta kepada lelaki tangguh seperti ayahku, air matanya tidak ia alirkan di depan mata, tapi di balik matanya aku rasakan ada semacam air terjun, kawan!, yah kalian tahu Niagara ?!, seperti itulah deras air mata yang ia alirkan dibalik matanya, aku rasakan itu. Sedih juga ada pada diriku tapi aku tak sanggup untuk menumpahkannya karna aku akan mencoba bersikap tegar karena ini telah menjadi keputusanku untuk menuntut ilmu di luar negri.

   Setelah berpisah dengan orang tua kami berdua, aku dan temanku  mulai memasuki tempat cek in untuk memasukan barang-barang kami ke bagasi dan menunggu panggilan keberangkatan pesawat dengan tujuan penerbangan Jakarta - Kuala Lumpur - Kuwait - Kairo, setelah menunggu hingga enam jam, akhirnya terdengar suara panggilan dari petugas bandara untuk penumpang jurusan penerbangan Jakarta - Kuala Lumpur dengan maskapai Kuwait Air Ways, Alhamdulillah sekarang aku sudah berada di pesawat dan sekarang pesawat sudah terbang kira-kira sudah hampir enam jam pesawat masih berada di langit dan pramugari pesawat tersebut memberikan aba-aba bahwa pesawat akan landing di bandara Kuwait.

    Saatnya menunggu kembali hingga pukul 12.00 waktu kuwait, kemudian ada panggilan lagi untuk melakukan boarding pass, setelah selesai boarding pass kami duduk kembali di dalam bangku pesawat dan pesawat mulai take off terbang menuju bandara internasional Kairo Mesir, tidak begitu lama Alhamdulillah kami tibai di Kairo dengan selamat dan sesampainya disana kami sudah ada yang menyambut, dan kami juga sudah di sediakan tempat tinggal selama beberapa bulan.


Alhamdulillah berkat usaha yang keras dan kemauan yang kuat serta do'a yang tak pernah henti-hentinya dari kedua orang tuaku, kini aku telah kuliah di universitas al-Azhar Kairo Mesir, fakultas Syari'ah wal Qonun qism Syari'ah Islamiyah.